Rabu, 17 Agustus 2016

Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.
Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, berdasarkan tim PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang telah menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang secara resmi menyerah kepada Sekutu di kapal USS Missouri. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.

Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta BPUPKI Dalam perjalanan sejarah menuju kemerdekaan Indonesia, dr. Radjiman adalah satu-satunya orang yang terlibat secara akif dalam kancah perjuangan berbangsa dimulai dari munculnya Boedi Utomo sampai pembentukan BPUPKI. Manuvernya di saat memimpin Budi Utomo yang mengusulkan pembentukan milisi rakyat disetiap daerah di Indonesia (kesadaran memiliki tentara rakyat) dijawab Belanda dengan kompensasi membentuk Volksraad dan dr. Radjiman masuk di dalamnya sebagai wakil dari Boedi Utomo.

Pada sidang BPUPKI pada 29 Mei 1945, ia mengajukan pertanyaan “apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?” Pertanyaan ini dijawab oleh Bung Karno dengan Pancasila. Jawaban dan uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi ini menjadi temuan baru dalam sejarah Indonesia yang memaparkan kembali fakta bahwa Soekarno adalah Bapak Bangsa pencetus Pancasila.

Pada tanggal 9 Agustus 1945 ia membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Saigon dan Da Lat untuk menemui pimpinan tentara Jepang untuk Asia Timur Raya terkait dengan pengeboman Hiroshima dan Nagasaki yang menyebabkan Jepang berencana menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, yang akan menciptakan kekosongan kekuasaan di Indonesia. tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana terbakar gelora kepahlawanannya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, mereka bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. 

Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Tadashi Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokyo bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokyo dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.

Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.

Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10.00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Istana Merdeka.

Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.

Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.

Sumber : Wikipedia

Kamis, 07 Juli 2016

Ribuan Jamaah Padati Shalat Idul Fitri 1437 H di Masjid Al-Manshurin

Tanpa terasa 30 hari Bulan Suci Ramadhan telah kita lewati dengan berbagai aktivitas ibadah, maka saatnya kita menyambut hari kemenangan dengan kumandang takbir. Pada Rabu pagi hari tanggal 6 Juli 2016 Kumandang takbir  mulai bersahutan di Lapangan Parkir Timur Masjid Al-Manshurin, Kec. Wua-wua Kendari, Ribuan jamaah sudah memadati lapangan tersebut sejak pagi-pagi sekali.


Acara diawali dengan kegiatan shalat Ied berjamaah yang dipimpin oleh K.H. Abdillah Assiddiqi, yang dilanjutkan dengan pembacaan Khutbah Idulfitri. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan Ceramah Agama yang disampaikan oleh Sugeng Purnomo, S.Ag.  Poin-poin penting yang disampaikan dalam ceramah agama tersebut yaitu pentingnya menjaga toleransi, Ukhuwah Islamiyah dan kerukunan umat beragama pada momen hari raya Idul Fitri ini. Hendaknya momen hari raya ini dimanfaatkan untuk saling bersilaturahim kepada segenap sanak saudara, kerabat, dan tetangga untuk meningkatkan hubungan persaudaraan dan keakraban antar sesama.


Usai penyampaian ceramah agama tersebut dilanjutkan dengan kegiatan salam-salaman seluruh jamaah yang berbaris bergiliran mulai dari pengurus masjid hingga ke para jamaah. Setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing, sebagian banyak juga yang singgah menyambangi rumah K.H. Abdillah Assiddiqi yang kebetulah rumahnya berada di dekat Masjid Al-Manshurin tersebut.  



Minggu, 26 Juni 2016

Ayo Raih Pahala Lailatul Qadar dengan I’tikaf

Bulan suci ramadhan merupakan bulan yang membuka kesempatan kepada orang orang yang suka berbuat maksiat untuk bertaubat kepada Alloh SWT, hal ini telah dijelaskan bahwa pada bulan tersebut semua setan dan iblis akan dibelenggu oleh Alloh, semua pintu surga dibuka selebar-lebarnya begitu juga dengan pintu neraka akan ditutup serapat-rapatnya. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya beribadah kepada Alloh SWT pada bulan Ramadhan ini.


Adapun keistimewaan lainnya di bulan Ramadhan adalah terdapatnya satu malam yang sangat Istimewa yaitu Lailatul Qadar.

Mengapa malam ini begitu Istimewanya ? Apa saja keutamaan dari malam ini di bandingkan dengan malam – malam lainnya ?

Lailatul Qadar dalam bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ, (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Qadr 1-3 :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ *

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ *

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ *

“Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” 

Firman Allah SWT diatas memberitahukan kepada kita bahwasanya Alqur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, dan pada malam Lailatul Qadar terdapat kemuliaan yang lebih baik daripada seribu (1000) bulan.

Malam Lailatul Qadar juga merupakan malam yang penuh dengan keberkahan. Sebagaimana dalam firman Allah SWT :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ * أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ * رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Rabbmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,.” (QS : Ad Dukhaan : 3-6)

Dalam malam lailatul qadar ditandai pula dengan turunnya malaikat. Seperti dalam firman Allah SWT :

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْر

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril” (QS. Al-Qadar: 4)
Adapun keistimewaan malam lailatul qodar lainnya adalah Alloh akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi orang – orang yang melaksanakan shalat dan berdoa di malam Lailatul Qodar.

Dari Abhu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Artinya: “Barang siapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari no. 1901).

Adapun waktu pelaksanaan ibadah Lailatul Qadar adalah saat sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

“Maka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari No. 1105)

Adapun dalam mencari malam lailatul qadar ini dengan mengerjakan i’tikaf. I’tikaf (Itikaf, iktikaf, iqtikaf, i’tiqaf, itiqaf), berasal dari bahasa Arab akafa yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Pengertiannya dalam konteks ibadah dalam Islam adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah SWT dan bermuhasabah (introspeksi) atas perbuatan-perbuatannya, dengan merenung, taqarrub (mendekat), beribadah, berzikir dan mohon ampunan kepada Allah.

Sebagaimana dalam hadist Bukhori berikut ini:

Dari Aisyah r.a berkata “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan dia bersabda, yang artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).


Dari hadist di atas diterangkan bahwa Rosululloh mengerjakan I’tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan untuk mencari malam lailatul qadar . Maka mari kita mempersungguh untuk i’tikaf di 10 hari terakhir di bulan romadhon dengan harapan dapat meraih pahala 1000 bulan dengan memperbanyak ibadah pada malam tersebut.

Minggu, 12 Juni 2016

5 Sukses Ibadah di Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ampunan, rugilah bagi orang yang sudah melewati ramadhan tapi dia tidak mendapatkan ampunan dari Allah, selain itu pula semua amalan dilipat gandakan baik ataupun buruknya.


Maka dari itu kami mengingatkan kembali kepada kawan kawan semua untuk meraih kesuksesan dalam bulan ramadhan ada program ibadah Lima Sukses Ramadhan meliputi: sukses puasa ramadhan, sukses Sholat Tarawih, sukses Tadarus Al-Quran, sukses Lailatul Qodar, dan yang kelima adalah sukses Zakat, Infaq dan Shodaqoh.

1.    Sukses Berpuasa Ramadhan  
Dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 183 disebutkan,”Wahai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar engkau menjadi orang yang bertaqwa.”

Dalam hadist Bukhori Kitab keutamaan Malam Qodar dijelaskan,” Dari Abi Hurairoh RA dari Nabi SAW, Nabi bersabda,” Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan kerena mencari pahala dari Allah, diampuni apa-apa yang telah lewat dari dosanya. Dan barang siapa berdiri (beribadah) pada malam qodar karena mencari pahala dari Allah, diampuni apa-apa yang telah lewat dari dosanya.”

Jadi selama kita tidak mengalami udzur seperti kondisi sakit, mengalami gangguan jiwa, pikun, ataupun kondisi haid bagi perempuan, maka diharuskan untuk berpuasa sebulan penuh tanpa melewatkan satu haripun.

2.            Sukses Sholat Tarawih
Hadist riwayat Bukhori dalam Sholat Tarawih dijelaskan,” Dari Abi Huriroh RA dan Nabi SAW, Nabi bersabda,” Barang siapa berdiri (sholat sunnah) pada bulan Ramadhan karena mencari pahala dari Allah, diampuni apa-apa yang telah lewat dari dosanya.

3.            Sukses Tadarus Al Quran
Dalam bulan Ramadhan ini dianjurkan dapat mengkhatamkan bacaan Al-Quran 30 juz, sedikitnya satu kali, adapun bagi yang belum lancar dalam membaca Al-Quran agar berusaha meningkatkan/mengasah kemampuan membaca Al Qurannya selama bulan ramadhan ini. Karena satu huruf Al-Quran yang kita baca selama bulan Ramadhan digandakan 10 kali lipat oleh Allah dibanding bulan lainnya.

4.            Sukses Iktikaf dan Malam Lailatur Qodar
Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, para jamaah dianjurkan bisa beribadah full semalam suntuk (itikaf) di dalam Masjid hingga waktu Subuh. Malam Qodar jatuh diantara 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Beribadah dalam malam Qodar tersebut pahalanya melebihi beribadah selama 1000 (seribu) bulan. Awas jangan sampai terlewatkan atau bahkan tertidur dalam malam yang agung tersebut.

5.            Sukses Zakat, Infak, dan Sedekah

Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 43 dijelaskan,” Tegakkanlah shalat dan bayarlan Zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk,” dalam hal ini membayar zakat dengan satu Sho’  (sekitar 2,7 Kg) makanan pokok yang disetorkan kepada amil zakatnya sebelum terbitnya fajar di idul Fitri. Selain zakat selama bulan Ramadhan dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah, terlebih lagi pada saat 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Karena jika kita infak dan sedekah pada saat tersebut nilai pahalanya dilipatkan berkali-kali lipat dibanding waktu lainnya Sekian semoga bermanfaat.

Selasa, 31 Mei 2016

Beribadah Dengan Khusuk

Pertama kali yang akan musnah dalam umat akhir jaman adalah sifat hati yang khusuk. Manusia sudah tidak bisa konsentrasi, fokus dan serius dalam beribadah. Waktu dan pikiran manusia lebih banyak tersita untuk urusan dunia daripada urusan agama dan zdikir pada Allah.

Dalam Surah Al-Hadid ayat 16 Allah Ta’ala menasehatkan, hendaknya orang-orang beriman khusuk hatinya untuk ingat pada Allah dan pada agama Allah.

Janganlah kaum Muslimin seperti orang-orang ahli kitab, Yahudi dan Nasrani, yang umurnya panjang tapi keras hatinya dan banyak melanggar karena tidak khusuk pada Allah.

1579 – حَدَّثَنَا إِدْرِيسُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْحَدَّادُ، ثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ، ثَنَا فَرَجُ بْنُ فَضَالَةَ، عَنْ لُقْمَانَ بْنِ عَامِرٍ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَوَّلُ مَا يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى لَا يُرَى فِيهِ خَاشِعًا»

Dari Abi Darda’, sesungguhnya Nabi s.a.w. bersabda: “Pertama kali diangkat dari umat ini adalah rasa khusu’ sehingga tidak dijumpai lagi dalam umat sifat khusuk.
[Hadist Riwayat Thobrini No 1579]

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (16)

Adakah belum waktunya orang-orang beriman khusuk hati mereka untuk ingat kepada Allah dan pada apa-apa yang diturunkan dari agama yang haq dan janganlah seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya maka masa mereka lama maka keras hati mereka dan kebanyakan mereka fasiq.
[Surah Al-Hadidi ayat 16]


Sumber : Pengajian-ldii.net

Selasa, 03 Mei 2016

Polda Sultra Dukung LDII Perangi Radikalisasi

Menyikapi masih maraknya aktivitas kegiatan-kegiatan kelompok radikal yang mencoba untuk mengubah ideologi bangsa indonesia yaitu Pancasila dan konsep kebangsaan yang berbhineka tunggal ika, maka sebagai langkah pencegahan pemerintah terus-menerus berupaya mengkampanyekan kegiatan deradikalisasi dengan menggandeng berbagai tokoh masyarakat, kelompok ormas, kelompok keagamaan, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.


Beberapa bulan lalu tidak lama setelah tragedi teror bom thamrin di Jakarta terjadi, LDII sebagai salah satu organisasi islam yang aktif menentang keras segala macam bentuk terorisme yang membawa nama agama ikut diundang Presiden Jokowi bersama Pimpinan NU bertemu di Istana Merdeka Jakarta membahas penanganan dan pencegahan gerakan radikal islam di Indonesia.

Seusai pertemuan tersebut DPP LDII segera memberikan arahan kepada semua Pengurus DPW dan DPD LDII yang tersebar di 34 Propinsi dan 509 Kabupaten/Kota di Indonesia untuk mengencarkan sosialisasi gerakan deradikalisasi dengan menggandeng pihak-pihak terkait khususnya TNI/Polri yang ada di daerah setempat.


Di wilayah Sulawesi tenggara, Pihak DPW LDII Sultra bekerjasama dengan Polda Sultra untuk melakukan penyuluhan bahaya radikalisme, dimana kegiatan tersebut telah berlangsung di Masjid Al-Mukhlis, Lepo-lepo, Kendari pada tanggal 2 Mei 2016 pada pukul 20.00 WITA hingga selesai.

Dalam kegiatan tersebut pihak Polda Sultra diwakili oleh Kabag Bin Ops Polda Sultra AKBP. Arif Gunawan yang kemudian melakukan penyuluhan dengan materi yang disusun secara terstruktur mulai dari sejarah awal mula terbentuknya kelompok-kelompok radikal di Indonesia yang kemudian mendorong terjadinya peristiwa teror Bom Bali pada tahun 2002 yang menimbulkan ratusan korban jiwa, lalu aktivitas kelompok Abubakar Baasyir hingga sepak terjang kelompok santoso yang sampai sekarang masih menebar teror di Poso Sulawesi Tengah.


Lebih lanjut AKBP Arif Gunawan menyatakan bahwa seluruh masyarakat harus mewaspadai ciri-ciri kelompok radikal tersebut, diantaranya adalah ; Suka mengkafirkan kelompok yang mereka anggap berseberangan, tidak mengakui pancasila dan UUD 1945, menentang konsep kebhinekaan, tidak mengkonsumsi daging hasil sembelihan orang-orang yang dianggap kafir,


Pihak Polda Sultra menurut AKBP Arif Gunawan sudah mengidentifikasi aktivitas kelompok-kelompok radikal ini di wilayah sulawesi tenggara, diantaranya yang menonjol adalah HTI dan Wahdah Islamiyah. Beberapa kelompok pendukung ISIS dan teroris santoso juga teridentifikasi mencari dukungan di wilayah sulawesi tenggara. Karena itu pengawasan terhadap rumah-rumah kos harus ditingkatkan, karena jaringan teror tersebut biasa hidup berpindah-pindah sehingga biasa memanfaatkan jasa rumah kos.

Oleh sebab itu pihak kepolisian mendukung penuh peran LDII dalam memberikan pemahaman bahaya radikalisme di lingkungan masyarakat sebagai langkah pencegahan untuk meminimalisir aktivitas kelompok radikal tersebut di berbagai lapisan masyarakat.


Selain itu dirinya juga mengapresiasi peran LDII dalam mengedukasi warganya agar selalu menjauhkan diri dari kejahatan lainnya seperti Penyalahgunaan Narkoba, dan minuman keras. Menurutnya kejahatan Narkoba memiliki efek buruk yang tidak kalah dahsyat dari aksi terorisme. Puluhan orang masuk penjara tiap hari gara-gara narkoba hingga membuat lapas penuh. Korbannya pun beragam mulai dari anak-anak, remaja, PNS, TNI/Polri, bahkan hingga pejabat seperti bupati pun ikut terjerat kasus narkoba.



Pada akhir acara penyuluhan juga diadakan tanya-jawab mengenai radikalisme lalu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustad Habibullah kemudian dilanjutkan dengan acara foto bersama dengan para pengurus LDII setempat.


Minggu, 01 Mei 2016

Mengintip Keindahan Panorama Pantai Nambo, Kendari

Kota Kendari sebagai salah satu kota di Sulawesi Tenggara yang terletak di pinggir laut, dan menawarkan banyak destinasi wisata pilihan untuk layak dikunjungi. Salah satunya adalah Pantai Nambo.


Pantai Nambo adalah merupakan salah satu pantai yang sangat terkenal di Kendari, Sulawesi Tenggara. Obyek wisata Sulawesi yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi wisatawan dan sudah menjadi obyek wisata terfavorit di kota Kendari. Obyek wisata Pantai Nambo ini tidak jauh dari Kota Kendari hanya berjarak sekitar 12 kilometer di sebelah selatan pusat kota Kendari tepatnya di Kelurahan Abeli. Pantai ini memiliki air yang sangat jernih dengan gradasi warna yang sangat menarik.

Ombak di pantai Nambo ini beriak tenang dan semilir angin lautnya pun juga sangat indah. Keindahan panorama laut pun semakin indah ditambah dengan nyiur dan pohon yang tumbuh di sekitar tepi pantai. Pada hari libur, obyek wisata Sulawesi Tenggara ini banyak dipadati oleh para pengunjung yang ingin menikmati keindahan panorama alamnya. Melihat minat dan antusias yang tinggi dari para pengunjung, maka Pemkot Kendari melakukan berbagai upaya perbaikan beberapa fasilitas umum diantaranya fasilitas toilet, tempat parkir, dan beberapa gazebo yang akan memanjakan para wisatawan yang mengunjungi obyek wisata Pantai Nambo ini.


Selain itu, pantai ini juga memiliki hamparan pasir putih yang sangat indah dan mampu menyihir banyak pengunjung untuk mengunjungi kawasan wisata Sulawesi ini. Di pantai Nambo ini, para pengunjung selain bersantai bisa juga untuk menyempatkan bermain pasir, bermain banana boat, bermain air laut , voli pantai, berlari-lari di sekitar pantai, layang-layang, dan berbagai aktivitas lainnya.


Pantai Nambo ini juga sudah dilengkapi dengan bermacam-macam fasilitas pendukung yang akan membuat para pengunjung nyaman di lokasi wisata. Di area obyek wisata Pantai Nambo ini sudah tersedia beberapa warung yang menjajakan berbagai macam dagangannya, toilet umum, tempat parkir yang luas, dan tersedia juga beberapa pilihan penginapan mulai dari hotel Melati hingga hotel berbintang. Jika anda menghendaki untuk menginap di sekitar pantai Nambo ini, kami merekomendasikan kepada anda beberapa hotel yang bisa anda pergunakan untuk istirahat melepas lelah yaitu Hotel Grand Clarion, Hotel Plaza Inn, Hotel Zahra, Hotel Horison dan Swiss-Belhotel Kendari.

Lokasi
Obyek wisata Pantai Nambo ini terletak di Kelurahan Abeli, atau hanya berjarak sekira 12 kilometer sebelah selatan pusat Kota Kendari.


Akses
Bagi anda yang belum mengetahui lokasi obyek wisata Pantai Nambo ini, anda bisa mengunjunginya dengan cukup mudah jika sudah berada di Kota Kendari, baik menggunakan kendaraan umum/taxi atau kendaraan pribadi. Dari Bandar Udara Haluoleo, hanya diperlukan waktu perjalanan sekira 20 menit untuk menuju lokasi. Sedangkan jika ingin mengaksesnya dari Pelabuhan Kendari, anda bisa menggunakan perahu tradisional untuk menuju obyek wisata Sulawesi Tenggara ini. Nah tunggu apa lagi, segera ajak keluarga, teman atau sahabat anda untuk menikmati Keindahan panorama Pantai Nambo ini. (Diolah dari berbagai sumber).