Minggu, 03 Mei 2015

PAC LDII Rahandouna Gotong Royong Bangun Masjid

Sedikit demi sedikit lama kelamaan menjadi bukit, tampaknya inilah yang menjadi prinsip warga PAC LDII Rahandouna, Kec. Poasia, Kota Kendari dalam bergotong-royong membangun masjid kecil di lingkungan mereka. Memanfaatkan momen hari libur, pada hari minggu pagi 03/05/2015, belasan warga tua maupun muda berkumpul di lokasi pembangunan masjid untuk bergotong royong memasang dinding batako dan menimbun teras samping masjid.

Kegiatan yang dikoordinir Ustad Sulthoni ini dimulai dengan memindahkan ratusan buah batako dan batu bata ke dalam area masjid, menimbun teras samping masjid, kemudian membuat campuran adonan semen dan memasang dinding batako di sekeliling masjid. kegiatan ini berlangsung cukup lama hingga jam 12 siang, karena keterbatasan jumlah personil. Meski tidak terlalu banyak, tapi warga yang terlibat cukup bersemangat karena memang diniati ibadah mengharap pahala dari Allah, apalagi ibu-ibu majelis taklim juga selalu memberikan support dengan menyiapkan aneka snack dan minuman untuk semua yang terlibat dalam kegiatan gotong-royong membangun masjid tersebut. 


Ukuran bangunan masjid ini direncanakan berukuran 9,5 x 10,5 meter yang nantinya juga dilengkapi dengan fasilitas tempat wudhu, kamar mandi, gudang, dan kamar muadzin/penjaga masjid. Masjid ini juga memiliki lahan parkir yang cukup luas. Diharapkan jika masjid ini selesai dibangun akan dapat lebih memudahkan warga dalam menjalankan aktivitas ibadah, khususnya sebagai sarana dakwah yang efektif karena dapat mengakomodir berbagai kegiatan pengajian yang dilaksanakan oleh PAC LDII Rahandouna.

Guru Abad 21, Belajarlah dari Cokroaminoto, Ki Hajar dan Muslimah


HOS Cokroaminoto dan Ki Hajar Dewantara memang tidak hidup di abad 21. Muslimah pun sudah pensiun sebagai guru pada saat konsep '21st Century Skills' menjadi jargon baru di dunia pendidikan. 

Boleh jadi, istilah collaboration, creative thingking and problem solving, self direction, communication, dan global awareness pun tidak sempat mereka kenal. Namun, pada kenyataannya, keterampilan-ketrampilan itulah yang mereka ajarkan kepada anak didiknya. Maka, jelas sekali, bahwa 'Keterampilan Abad 21' itu sebenarnya bukan konsep 'baru'. 

Ya, kita memang sering lebih percaya pada suatu konsep dan gagasan jika berasal dari barat, yang dikemas dengan istilah-istilah keren nan canggih. Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara dan Muslimah membuktikan bahwa guru tidak cukup hanya memiliki ilmu akademis dan pedagogis. Guru juga harus seorang pembelajar (learner) seorang among (collaborator, communicator, adaptor) sekaligus pamong (leader), berani memberi tantangan bagi muridnya (risk taker), sebagai panutan (model), serta punya visi jauh ke depan (visionary). Sejatinya, itulah yang sekarang ramai dibicarakan sebagai '21st Century Educator'.

Saat ini banyak sekolah dan perguruan tinggi, bahkan pemerintah seakan berlomba menerjemahkan konsep tersebut dengan merancang materi pengajaran yang mempunyai aroma '21st Century Skill'. Mereka merujuk ke berbagai hasil riset dari para pakar pendidikan barat atau menghadiri seminar-seminar internasional. Padahal, jika mau sedikit peka dan jeli, kita dapat banyak belajar dan menelaah konsep "mendidik" yang berakar dari nilai-nilai luhur bangsa ini dan telah diterapkan para pendidik nasional kita.

Ujung tombak

Guru adalah ujung tombak pendidikan nasional. Bukan kurikulum, bukan buku paket, bukan fasilitas lengkap dan canggih. 

Seberapa sering isu tentang peningkatan kualitas guru dan dosen diperdebatkan di acara-acara talk show di televisi? Seberapa sering kita mengangkat topik tentang program peningkatan kualitas para guru di daerah terpencil? Pernahkah kita mengangkat topik tentang target Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan akhir 2014 lalu yang menyatakan bahwa semua dosen perguruan tinggi harus memiliki gelar S-2? 

Sampai saat ini tercatat, dosen berkualifikasi akademik S-2/S-3 baru mencapai sekitar 66 persen atau sekitar 110 ribu dosen. Padahal, kita memiliki dari 3000 lebih lembaga pendidikan tinggi. Permasalahannya bukan pada dana, tapi kesulitan kita mendapatkan kandidat berkualitas, terutama untuk yang akan meneruskan studi di luar negeri.

Sebagai gambaran untuk program S-3 ke perguruan tinggi di Belanda, DIKTI bekerjasama dengan Netherlands Education Support Office (Neso) menargetkan mengirim 50 dosen calon doktor setiap tahun untuk studi di Belanda. Hasilnya? Tak sampai setengah dari target tersebut tercapai karena sedikitnya calon bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan perguruan tinggi di Belanda.

Topik tentang pengembangan kualitas guru mungkin tidak semenarik topik tentang pergantian menteri pendidikan, gonta-ganti kurikulum, atau topik tentang Ujian Nasional. Dikaitkan dengan konsep 'Keterampilan Abad 21', seharusnya kita berpikir, guru seperti apakah yang mampu mendidik siswa sehingga mereka memiliki 'Keterampilan Abad 21' itu? Apakah cukup dengan merevisi materi pengajaran, penambahan fasilitas pengajaran dan instrumen evaluasi, target siswa dengan 'Keterampilan Abad 21' bisa tercapai?

Sudah saatnya kita lebih kritis dan peduli tentang kualitas guru dan berusaha untuk meningkatkannya. Sudah saatnya kebijakan pendidikan nasional lebih menekankan pada pentingnya bangsa ini memiliki guru berdaya saing global, profesional, dan berkarakter. Guru yang tidak hanyamengajar, tapi mendidik siswa menjadi manusia yang berdaya saing global, profesional, dan berkarakter.

Maka, mari wujudkan Indonesia yang memiliki guru yang mampu membentuk kehidupan anak bangsa. Seperti kata Soekarno, "HOS Tjokroaminoto itulah yang membentuk seluruh kehidupan saya". 

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Penulis : Indy Hardono
(Sumber : kompas.com)

Kamis, 30 April 2015

Kakanwil Kemenag Sultra Bersilaturahim Dengan Pengurus LDII Sultra

Sebagai lembaga pemerintah yang memiliki tugas membina dan mengayomi kehidupan beragama di Indonesia, Kementerian Agama RI selalu berupaya meningkatkan pelayanan dan perhatian kepada semua kelompok umat beragama untuk memastikan bahwa semua kelompok tersebut selalu menjalankan aktivitasnya sesuai aturan dan norma hukum yang berlaku di Negara Indonesia. Apalagi dengan semakin maraknya gerakan islam radikal di Indonesia membuat Kementerian Agama RI juga semakin gencar mensosialisasikan program dakwah deradikalisasi ke seluruh penjuru tanah air.
Begitupula halnya dengan Kemenag Sultra, lembaga dibawah pimpinan Kakanwil saat ini yaitu H. Muhammad Ali Irfan juga rajin menyambangi berbagai kelompok agama di Sultra untuk memberikan pencerahan. Hal tersebut tentu sejalan juga dengan program dakwah LDII yang selalu bermitra dengan semua unsur di pemerintahan maupun TNI-POLRI untuk menjalankan aktivitasnya dan membantu program pemerintah dalam mengeliminir gerakan radikal islam di Indonesia.




Untuk itu DPW LDII Sultra bekerjasama dengan Kemenag Sultra menyelenggarakan kegiatan Silaturahim Bersama Kakanwil Kemenag Sultra dengan Piengurus LDII Sultra yang bertempat di Masjid Al-Mukhlis, Kel. Wundodopi, Kec. Baruga, Kendari pada Hari Kamis malam ba'da Isya  tanggal 30/04/2015. Acara tersebut dihadiri juga oleh ribuan warga LDII Kendari. Acara tersebut dimulai dengan sambutan Ketua DPW LDII Sultra L. Kadir, S.Pd yang menguraikan berbagai kegiatan dakwah LDII maupun kegiatan sosial LDII Sultra seperti kegiatan penghijauan mangrove di Teluk Kendari, Kegiatan Workshop ekonomi syariah,  Workshop kewirausahaan, kegiatan workshop gerakan internet sehat, kegiatan turnamen sepakbola, dan Kegiatan Persinas ASAD.
Kegiatan Acara Silaturahim tersebut kemudian ditutup dengan kegiatan foto bersama unsur pimpinan LDII Sultra dengan pihak Kakanwil Kemenag Sultra.


Minggu, 19 April 2015

LDII Wua-Wua Undang Kapolsek Baruga Dalam Forum Pengajian

Saat ini fenomena gerakan radikal islam mulai semakin mewabah di seluruh Indonesia. Apalagi semenjak gerakan organisasi radikal ISIS mulai diproklamirkan di Timur Tengah dengan mengobarkan perang atas nama jihad di Irak dan Syria hal itu juga turut meluaskan pengaruh paham radikal hingga ke berbagai pelosok Indonesia. Jika hal ini tidak dieliminir tentu akan berpotensi memecah belah kerukunan umat beragama di Indonesia. Oleh karena itu LDII sebagai organisasi Islam yang Pancasilais tentu turut andil berupaya menyukseskan program pemerintah dalam membentengi ideologi warganya dari pengaruh paham-paham islam radikal seperti ISIS.

Sehubungan dengan hal itu LDII telah berupaya menggandeng Aparat TNI-Polri, Unsur Pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat untuk memberikan penyuluhan mengenai paham-paham islam radikal ISIS. Di tingkat kecamatan LDII Wua-wua bahkan turut mengundang Kapolsek Baruga AKP Agung Basuki, SIK untuk memberikan pengarahan terkait pencegahan paham islam radikal seperti ISIS. Pada hari Minggu 19/04/2015 bertempat di Masjid Al-Manshurin, Komplek BPL, Kec. Wua-Wua Kota Kendari, Kapolsek Baruga turut hadir dalam forum pengajian umum LDII untuk membawakan materi.

Dalam materi yang ia sampaikan, AKP Agung Basuki, SIK menguraikan berbagai latar belakang gerakan-gerakan radikal Islam, menjelaskan berbagai sepak terjang gerakan radikal islam di Indonesia, dan menyerukan untuk mewaspadai doktrin-doktrin menyesatkan dari gerakan radikal tersebut. Selanjutnya AKP Agung Basuki, SIK menghimbau kepada seluruh warga LDII agar turut membantu memberikan pemahaman dan pencerahan kepada seluruh masyarakat agar tidak terpengaruh paham-paham radikal ISIS.

Usai memberikan materi mengenai ISIS, Kapolsek Baruga juga mengingatkan untuk mewaspadai aksi begal motor dan jambret yang mulai semakin eksis di Kendari termasuk di wilayah Wua-wua, Kadia, dan Baruga. Kapolsek menyerukan agar warga harus berhati-hati dalam beraktifitas di malam hari, khususnya ketika melewati daerah yang sepi dan gelap karena sangat rawan kejahatan tersebut.

Di akhir acara penyampaian materi tersebut, Kapolsek Baruga menyempatkan diri berfoto bersama jajaran pengurus LDII Wua-wua, sekaligus berpamitan karena akan pindah tugas ke Kabupaten Kolaka untuk menempati jabatan baru sebagai Kabag Ops Polres Kolaka.

Jumat, 05 Desember 2014

Kawasan Industri Morowali serap 80.000 pekerja

Morowali (ANTARA News) - Kawasan Industri Morowali yang baru saja diresmikan pembangunannya oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin mampu menyerap 80.000 tenaga kerja saat dioperasikan 2019 mendatang.

"Dengan terbangunnya pabrik stainless steel berkapasitas 2 juta ton dan berkembangnya industri-industri hilir lainnya maka diperkirakan, pada tahun 2019, Kawasan Industri Morowali Tsingshan akan menyerap 80.000 tenaga kerja," kata Menteri Saleh Husin dalam sambutannya di Morowali, Jumat.

Menperin meyakinkan nantinya tenaga kerja di kawasan tersebut akan diisi oleh putra-putri terbaik Bangsa Indonesia.

"Penyerapan 80.000 tenaga kerja itu akan sampai pada selesainya seluruh proses pembangunan, termasuk adanya industri turunan. Dengan hadirnya kawasan industri berbasis nikel ini maka nanti dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan skill tertentu yang mumpuni. Ke depan kita berharap tenaga lokal dapat duduk dan bisa ikut berpartisipasi di Kawasan Industri Morowali Tsingshang ini," kata Menteri Saleh.

Sementara itu, Presiden Direktur Indonesia Morowali Industrial Park, Hamid Mina mengatakan hingga saat ini saja, pembangunan kawasan industri tersebut telah menyerap 2.000 pekerja.

Dengan dibangunnya kawasan industri seperti di Morowali maka diharapkan dapat mendorong tumbuhnya industri nasional. Pengembangan kawasan industri di daerah merupakan upaya untuk penyebaran industri yang saat ini masih terpusat di Pulau Jawa.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mengembangkan 13 kawasan industri di luar Pulau Jawa untuk penyebaran investasi di bidang pengolahan di berbagai daerah di Indonesia.

Ke-13 kawasan industri yang akan dikembangkan adalah pertama, Teluk Bintuni (Papua Barat), yang berbasis gas, dan akan dikembangkan industri petrokimia. Kedua, Halmahera Timur (Maluku Utara), dengan basis pengembangan industri nikel. Ketiga, Bitung (Sulawesi Utara) dan keempat adalah Palu (Sulawesi Tengah).

Kelima Morowali (Sulawesi Tengah) yang berbasis pengolahan nikel. Keenam adalah Konawe (Sulawesi Tenggara). Ketujuh adalah Bantaeng (Sulawesi Selatan). Sedangkan enam lainnya adalah Batu Licin (Kalimantan Selatan), Ketapang (Kalimantan Barat), Landak (Kalimantan Barat), Kuala Tanjung dan Sei Mangke (Sumatera Utara), serta Tanggamus (Lampung).

"Misi penyebaran dan pemerataan industri ini sejalan dengan Nawa Cita Presiden Republik Indonesia Agenda Prioritas ke-6 butir ke-4 yakni meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkut bersama bangsa-bangsa Asia lainnya melalui pembangunan sekurang-kurangnya 10 kawasan industri baru berikut pengembangan hunian untuk buruh," kata Menteri Saleh.

 Sumber : antaranews.com


LDII bangun ukhuwah Islamiyah, cegah perpecahan

Semarang (ANTARA News) - Lembaga Dakwah Islam Indonesia terus berupaya membangun ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah perpecahan di berbagai kalangan masyarakat.

"Kadang-kadang umat Islam pecah karena hal-hal kecil mempersoalkan tata cara ibadah sehingga ukhuwah Islamiyah harus dibangun dalam kehidupan dengan umat beragama lain," kata Ketua Umum LDII Abdullah Syam di Semarang, Sabtu.

Hal tersebut disampaikan Abdullah di sela acara Musyawarah Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Jawa Tengah 2014 dengan tema "Melalui Muswil Kita Tingkatkan Peran Serta LDII Dalam Mencetak Insan Religius Profesional" yang berlangsung di Patra Jasa Convention Hotel pada 29-30 November 2014.

Ia menjelaskan LDII menolak semua pandangan dari gerakan apapun yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, serta yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

"Dulu founding fathers kita meletakkan persatuan kesatuan dalam kemajemukan dan itu menjadi suatu kekuatan untuk mencegah perpecahan," ujarnya didampingi Ketua LDII Jawa Tengah Singgih Tri Sulistyono.

Menurut dia, keragaman agama, bahasa, dan kultural di masyarakat saat ini, jika dikelola dengna baik dapat menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Pada kesempatan tersebut, Abdullah mengatakan seluruh anggota LDII harus mampu memberikan produk dalam bentuk karya, harus bisa menjalin komunikasi dengan semua pihak, dan memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk masyarakat.

"Selain itu, anggota LDII harus berakhlak, religius, profesional, dan memiliki pengetahuan tinggi, serta keterampilan," katanya.

Saat ini, kata dia, karakter bangsa Indonesia sudah terdegradasi sehingga perlu perhatian khusus dari pemerintah untuk memperbaikinya secara bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat.

Musyawarah Wilayah LDII Jateng 2014 untuk memilih kepengurusan periode 2014-2019 dan merumuskan program selama lima tahun ke depan, diikuti 270 orang yang terdiri atas pengurus pleno DPW, anggota dewan penasihat, serta para ketua dan sekretaris LDII berasal dari 35 kabupaten/kota di Jateng. 

 Sumber : antaranews.com


Kamis, 30 Oktober 2014

Perusahaan Kereta Jepang dan DPP LDII Teken MoU Pengelolaan Masjid

JAKARTA – Perusahaan Kereta Nankai Electric Railway (NER) Jepang untuk yang ketiga kalinya kembali mengunjungi DPP LDII, guna membahas pembangunan tempat salat umat Islam atau mushola dan masjid, Selasa (9/9/2014) lalu. Sebelumnya, NER telah melakukan kunjungan ke Indonesia dan meminta saran Kementerian Agama RI serta ormas Islam yang salah satunya adalah LDII.
Pada pertemuan sebelumnya tersebut, Jepang berniat menyediakan tempat salat dan restoran halal di setiap stasiun kereta api, mengingat potensi dari perkembangan wisatawan dan pelajar beragama Islam ke negeri itu. Umumnya, saat wisatawan tiba di Jepang, mereka kesulitan menemukan tempat salat atau mushola untuk beribadah.
Pada pertemuan yang ketiga kalinya ini, Presiden Direktur PT. OSSI, Satoshi Miyajima, didampingi Eiji Ananda Putra, seorang asisten sekaligus penerjemah yang menjadi penghubung NER, langsung melakukan berbagai kunjungan ke Kementerian Agama, MUI, dan ormas Islam lainnya dan difasilitasi DPP LDII.  Satoshi Miyajima, yang mahir berbahasa Indonesia ini, menyampaikan beberapa hal sebelum penandatanganan Masters of Understanding (MoU) atau nota kesepakatan.
Satoshi mengatakan, Osaka merupakan pintu gerbang wisatawan, pekerja, maupun pelajar dari mancanegara yang beragama Islam. Di Osaka dan kota-kota lainnya di Jepang, lanjutnya, umat Islam sebagai pendatang mengalami kesulitan untuk sholat di masjid. “Kami ingin membangun masjid. Untuk itu, kami (ingin) mempelajari masalah impact serta finansial, bagaimana mengatasi prasangka buruk masyarakat Jepang terhadap Islam, (serta) apakah setelah masjid dibangun operasionalnya akan membebani Nankai (atau tidak),” ujar Satoshi Miyajima.
Keheranan Satoshi Miyajima wajar karena selama ini pemberitaan media di Jepang terkait Islam selalu negatif, akibat keberpihakan dan ketidakberimbangan media. Namun dengan menggandeng LDII, ia berharap kesan mengenai Islam di dalam masyarakat Jepang berubah. Menurutnya, LDII memiliki komitmen membangun karakter umat yang ber-akhlaqul karimah, bukannya radikal. LDII dikenali sebagai ormas yang berpegang teguh kepada kemandirian dan memiliki relawan yang berkomitmen kuat.
“Properti LDII umumnya milik perorangan, yang kemudian dikelola LDII. Tentu secara legal harus dipahami prosedurnya, karena Indonesia dan Jepang memiliki prosedur yang berbeda. Jika MoU yang akan disepakati tidak dijalankan dengan baik maka aset Nankai dapat ditarik,“ ujar Rioberto Sidauruk dari Departemen Organisasi, Kaderisasi, dan dan Keanggotaan (OKK) DPP LDII.
Pada pertemuan itu, pertama, Nankai ingin mengkonfirmasikan kembali bahwa LDII bukanlah Islam radikal. Nankai melihat LDII mampu bersahabat dengan masyarakat sekitar, karena dapat menjunjung tinggi toleransi. Sebagaimana dalam falsafah Jepang: jika menanam kebaikan, maka kita akan memanen kebaikan.
Kekhawatiran pihak Jepang yang kedua adalah mengenai pembangunan masjid dapat membebani biaya operasional. Nankai berpendapat LDII mampu mengatasi permasalahan biaya operasional, karena dapat mendanai kegiatan secara mandiri. Namun demikian, tidak ada keuntungan yang dikejar dari pembangunan masjid karena merupakan program sosial.
Sebagai tindak lanjut kesepakatan, pada Kamis (11/9) malam, LDII mengundang Direktur Nankai, Takamasa Kadokura dan wakilnya Kitagawa. Selain beramah-tamah, LDII menjelaskan struktur organisasi serta tujuan dan kontribusi yang selama ini LDII lakukan. LDII dan Nankai sepakat untuk bekerjasama mengelola tempat ibadah tersebut difungsikan sebagaimana mestinya. Nankai juga menyampaikan, akan meresmikan tempat ibadah yang telah dibangun di salah satu pusat perbelanjaan di Namba pada 30 September 2014 mendatang.
Dalam bahasa Jepang, Takamasa menyampaikan terima kasih karena LDII sudah menyambut dengan hangat dan terbuka. Takamasa juga berharap, hubungan pertemanan ini bisa tetap berlanjut dan nantinya dapat saling bermanfaat satu sama lain. Terutama dalam mewujudkan pembangunan ibadah di semua stasiun Jepang, Osaka khususnya. (Noni/Riyan/LINES)