Selasa, 09 Februari 2016

Kodam VII Wirabuana - LDII Gelar Pengajian Bersama

MAKASSAR – Panglima Kodam VII Wirabuana Mayjen TNI Agus Surya Bakti menggelar pengajian bersama Pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan (Sulsel) di Rumah Jabatan Pangdam VII Wirabuana, Jalan Sungai Tangka, Makassar, Sulsel, Kamis (4/2/2016) malam.


Mayjen Agus Surya Bakti mengatakan, pengajian tersebut telah menjadi agenda bulanan. Menurutnya, pengajian ini sebagai sarana komunikasi TNI dan ormas islam. “Semua itu tentunya demi mempererat persaudaraan kita. Kemudian bisa mendoakan agar kita selalu mendapat bimbingan dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa dalam pekerjaan sehari-hari,” katanya saat memberi sambutan.

Selain dihadiri ratusan pengurus LDII, pengajian ini juga dihadiri jajaran perwira tinggi dan menengah Kodam VII Wirabuana, TNI AL, TNI AU, kepolisian, dan kejaksaan.

Lebih jauh, pihaknya mengungkapkan, LDII adalah ormas islam yang mendakwahkan syiar islam yang bisa memberi kedamaian bagi masyarakat. “Dan secara khusus, islam Indonesia, bukan Islam Arab, Islam Pakistan atau islam yang lain,” kata Agus.

Pihaknya mengajak segenap pengurus LDII untuk menjaga kultur islam. “Jadi kita ini orang Indonesia yang beragama islam. Bukan orang islam yang ada di Indonesia. Nilai-nilai islam itu adalah saling menghargai, selalu membawa kedamaian, musyawarah, dan gotong royong,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua LDII Sulsel Hidayat Nahwi Rasul mengatakan, LDII sebagai ormas islam, disatu sisi mengemban amanah mewujudkan islam yang rahmatan lil alamin. “Disisi lain, LDII mengemban amanah untuk mempertahankan Indonesia dengan segala kekayaan alam, tradisi, dan budaya yang ada di dalamnya. Untuk terus bersama di dalam 4 konsensus nasional,” kata Hidayat.

Hidayat berujar, islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). “Karena islam bukan hanya untuk manusia. Tetapi untuk seluruh alam,” katanya.

Pihaknya mencontohkan, islam melarang menebang pohon sembarangan. “Bahkan, dalam suatu hadis dikatakan, siapa saja muslim yang menanam pohon tahunan atau musiman, lalu pohon tersebut berguna bagi burung, manusia, atau makhluk lain maka bagi yang menanam itu sedekah amal jariah,” lanjut Ketua DPP LDII ini.

Terkait isu terorisme dan radikalisme, LDII, kata Hidayat menolaknya dengan tegas. “Kami pengurus LDII Sulsel menyatakan sikap dan kebulatan tekad untuk merapat kepada TNI, agar LDII tetap menjaga keutuhan NKRI,” kata Hidayat.

Lebih lanjut, Hidayat mengungkapkan, anak muda Indonesia saat ini rentan terjebak pada persoalan radikalisme. “Persoalan anak muda sekarang adalah wawasan ideologi yang lemah, persoalan ekonomi, dan ketidaktahuan,” katanya.

Tiga persoalan ini, kata Hidayat, menyebabkan anak muda mudah terprovokasi membuat bom dengan belajar melalui internet. Untuk menangkalnya, lanjutnya, LDII memiliki konsep Tri Sukses. “Pertama, generasi muda LDII harus paham agama. Karena kalau pemahaman islamnya setengah-setengah, maka rentan dipengaruhi ideologi radikal,” ujarnya.

Kedua, kata Hidayat, generasi LDII harus memiliki akhlakul karimah. “Ketiga, kita harapkan generasi muda LDII harus bisa mandiri, profesional, bisa mengerti ilmu pengetahuan dan teknologi,” ungkapnya.

Pengajian bersama ini diisi kajian ayat-ayat Alquran dan Alhadis terkait bela negara dan wawasan kebangsaan.


Sumber : pojoksatu.id

Presiden Jokowi Undang LDII Bahas Penanganan Radikalisme

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo menerima Ketua Umum DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Abdullah Syam di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (5/2/2016) siang. Abdullah datang menemui Presiden didampingi sejumlah pengurus pusat LDII.


"Kita sampaikan program kita dan dukungan terhadap (program) revolusi mental," kata Abdullah, seusai bertemu Presiden.

Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menuturkan, pertemuan dengan Presiden juga menyinggung upaya penanganan radikalisme di Indonesia.

Abdullah menegaskan bahwa LDII menolak paham radikalisme, aksi terorisme, dan penyalahgunaan narkoba.


"Kita menolak hal-hal yang bertentangan dengan Pancasila dan (Islam)rahmatan lil alamin," kata dia.

Di lokasi yang sama, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan bahwa LDII memiliki maksud baik saat bertemu Presiden. Ia menilai, segala kontroversi mengenai LDII saat ini sudah tidak terjadi.

"Dulu mungkin (kontroversial), tapi sekarang sudah sangat baik. Mereka sangat tidak sependapat dengan radikalisme," ucap Lukman.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, penanganan aksi terorisme dan penyebaran paham radikalisme perlu melibatkan semua lapisan masyarakat.

Karena itu, Luhut menilai tidak ada yang salah saat Presiden berdialog dengan LDII untuk keperluan tersebut.


"Penanganannya tidak cuma oleh pemerintah saja. Bertahap, nanti (kelompok masyarakat) yang lain juga dipanggil," ucap Luhut.

Sumber : Kompas.com

Minggu, 24 Januari 2016

Tangkal Radikalisme, LDII Kendari Giatkan Pembinaan Remaja

Terjadinya aksi teror yang terjadi di sekitar perempatan Sarinah Jalan MH Thamrin, Jakarta pada Kamis (14/1/2016) lalu menggerakkan kesadaran masyarakat untuk melawan terorisme. Pemerintah Indonesia melalui pernyataan Presiden Joko Widodo secara tegas mengecam aksi tersebut. Masyarakat pun menyatakan keberaniannya melawan terorisme dengan mempopulerkan hastag #kami tidak takut di media sosial.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) selaku ormas islam juga secara tegas menyatakan kecaman terhadap segala bentuk tindakan teror yang dilakukan golongan radikal. Hal ini, LDII tegaskan melalui pernyataan sikap bersama ormas islam lain melalui forum ukhuwah islamiyah beberapa waktu yang lalu. Pernyataan tersebut berisi penolakan terhadap gerakan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).


Radikalisme maupun terorisme timbul karena lemahnya rasa, paham, dan semangat bela negara. Lemahnya nasionalisme, serta rendahnya pemahaman 4 pilar kebangsaan yang meliputi, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika dinilai turut menjadi cikal bakal gerakan teror dan radikal. Gerakan radikal lain yang patut diwaspadai adalah munculnya Organisasi Gafatar yang merupakan aliran sesat dimana mencoba menggabungkan paham keyakinan lima agama dan mencoba mendirikan Negara Kesatuan Semesta Alam di Kalimantan Barat. Keberadaan organisasi ini akhirnya dilarang pemerintah karena berbau makar dan mengajarkan paham keagamaan yang menyesatkan.


Menindaklanjuti hal tersebut LDII Kendari kemudian semakin mengintensifkan kegiatan pengajian dan pembinaan aktifitas sosial khususnya di kalangan generasi muda, mengingat mereka sangat rentan menerima paham-paham radikal tersebut jika tidak dibendung sejak dini. Kegiatan tersebut antara lain Pengajian Remaja Semalam Suntuk, Festival Anak Sholeh, Bazaar Remaja, Pertandingan Pencak Silat, Pelatihan Kewirausahaan, Karnaval Sepeda Hias, dan Kompetisi Futsal Remaja LDII.






Dalam menangkal radikalisme di kalangan umat islam tidak bisa dilakukan dengan upaya pemaksaan dan doktrin  keyakinan semata seperti yang dilakukan oleh pemerintah melalui MUI selama ini, melainkan juga perlu partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat seperti tokoh-tokoh masyarakat, kalangan pendidik, dan unsur pemerintah hingga ke tingkat RT/ RW. Hal inilah yang disadari oleh pengurus LDII Kendari sejak lama sehingga tidak heran setiap hari selalu diadakan berbagai kegiatan sosial keagamaan untuk memperkuat akidah dan pemahaman spritual.





Kamis, 31 Desember 2015

LDII Sultra Gelar Kejurprov Pasanggiri Silat ASAD 2015

Dalam rangka menyukseskan program Pengurus Besar Persinas ASAD tahun 2015, maka Pengurus ASAD Sultra berinisiatif menyelenggarakan Kejurprov Pasanggiri Silat ASAD tingkat provinsi Sulawesi Tenggara yang bertempat di Kota Bau-bau, mulai dari tanggal 25-27 Desember 2015 yang diikuti ratusan peserta dari belasan kontingen yang ada di wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara.


Kegiatan ini dibuka dan dihadiri oleh Bapak Ketua Umum PB Persinas ASAD Brigjen TNI H. Agus Susarso, M.Eng, Sc beserta segenap rombongan pengurus PB ASAD yang didampingi oleh Ketua Pengurus Persinas ASAD Prov. Sultra H. Ir. Fajar Sudrajat, MBA. 


Penyelenggaran Acara ini dimaksudkan untuk membina dan mengasah skill para bibit-bibit unggul Pesilat ASAD dari berbagai tingkatan mulai remaja hingga dewasa sekaligus utntuk menyeleksi Atlet Persinas ASAD yang akan lolos mengikuti kejuaraan tingkat nasional tahun depan. Dalam kegiatan Kejurprov Pasanggiri Silat ASAD ini yang meraih juara umum adalah kontingen dari Lepo-lepo Kendari, disusul kontingen dari Wua-wua Kendari.






Kamis, 24 Desember 2015

LDII dan TNI Gelar Diklat Bela Negara untuk Tangkal Proxy War

Sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tergerak untuk berperan dalam pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Landasan tersebut yang mendorong LDII bermitra dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar diklat bela negara bagi pimpinan LDII se-Sulawesi. Diklat ini digelar selama 5 hari, terhitung sejak Senin (23/11/2015) hingga Jumat (27/11/2015) di Markas Rindam VII Wirabuana, Pakkatto, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dengan diikuti 170 kader Bela Negara LDII se-Sulawesi, diklat ini bertujuan menumbuhkan rasa, paham, dan semangat bela negara di sanubari segenap warga LDII.
Dalam pelatihan ini, pimpinan Kodam VII Wirabuana dan Rindam VII Wirabuana menyampaikan berbagai materi strategis. Materi disampaikan di dalam kelas (indoor) maupun di luar kelas (outdoor).
Sama sekali tidak ada unsur militerisme dalam diklat ini. Buktinya, materi yang sampaikan berupa ajakan agar bangga menjadi warga Indonesia. Tidak ada unsur kekerasan fisik selama pelatihan. Disamping itu, materi outdoor bertujuan membina kualitas mental dan disiplin kader.
Materi indoor, diantaranya ceramah proxy war dan wawasan kebangsaan. Staf ahli Kodam VII Wirabuana Kol Kav . Andi Darmawangsa, SIP, MM pada Selasa (24/11/2015) di Aula Jenderal Sudirman menjelaskan, saat ini, Indonesia menghadapi proxy war (perang proksi).
Proxy War adalah perang yang terjadi ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung. Perang ini melalui berbagai aspek berbangsa dan bernegara. Tidak terlihat siapa lawan atau kawan. Aktor proxy war adalah non-state, tetapi dikendalikan oleh state.

Untuk menangkal proxy war, beberapa langkah dapat ditempuh segenap elemen bangsa, diantaranya tidak mudah terpengaruh budaya asing dan arus globalisasi, berpikir jernih namun kritis saat melihat hal-hal yang aneh, menjadi tokoh dan contoh di lingkungan masing-masing.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu penguatan 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Empat pilar tersebut meliputi, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pancasila, sebagai contoh, dewasa ini mulai hilang dari sendi-sendi kehidupan bertanah air. Buktinya, kurikulum Pancasila maupun kewiraan di Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT) dihilangkan.
Dampaknya, pancasila mati suri, masyarakat alergi terhadap pancasila, dan lunturnya jiwa nasionalisme. Selain itu, moralitas bangsa menurun dengan ditandai mengguritanya kasus Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), maraknya pornografi, narkoba, dan seks bebas. Aksi terorisme dan radikalisme melanda negeri. Juga terjadi kerusuhan dimana-mana. Hal ini mengindikasikan lemahnya pemahanan maupun pengaplikasian nilai-nilai Pancasila.
Diakhir penyampaiannya, Kol Kav Andi Darmawangsa mengajak LDII tampil sebagai penyelamat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan meningkatkan aktualisasi nilai-nilai wawasang kebangsaan dan bela negara.
Melalui kegiatan diklat bela negara tersebut, pihaknya berharap, di dalam diri kader LDII, tumbuh semangat nasionalisme dan rasa persaudaraan dalam mendorong pembangunan nasional.


Selain itu, kata Darmawangsa, diklat bela negara LDII ini diharapkan menjadi sarana bertukar pikiran dalam memajukan bangsa. Juga dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan menumbuhkan wawasan kebangsaan dengan mengetahui teritorial negeri menyangkut aspek alamiah Trigatra (Geografi, demografi, Kondisi sosial) serta aspek Pancagatra (Ipoleksusbudhankam).

Pihaknya berharap, LDII menjadi agent of change (agen perubahan) yang mempunyai sikap tanggung jawab (sense of responsibility), rasa memiliki (sense of belonging) untuk memajukan bangsa, membangun bangsa sehingga tercipta masyarakat yang madani (civil society).
Sedangkan Wadan Rindam VII Wirabuana, Letkol Inf Priono mengatakan, wawasan kebangsaan terdiri dari tiga tingkatan. Ketiga tingkatan tersebut meliputi rasa, paham, dan semangat bela negara.
Ihwal rasa kebangsaan, berkaitan dengan ikatan emosi yang kuat antara negara dengan rakyat melalui proses pembangunan (character building). Sedangkan paham kebangsaan, berhubungan dengan pendidikan kebangsaan yang meliputi pengetahuan dan visi kebangsaan.
Pada tingkatan semangat, berkenaan dengan aksi kebangsaan, berupa keteladanan, militansi, cinta tanah air, bela negara, tidak kenal menyerah, rela berkorban, bangga terhadap bangsa, sesama warga negara saling memajukan, dan memberi suri tauladan.
Pada aktivitas lapangan, kegiatan yang digelar diantaranya, Pelatihan Baris Berbaris (PBB), titian dua tali, rapelling dari tower, flying fox, titian tali, dan kelereng bambu.
Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII, Prof Dr Abdullah Syam, MSc mengatakan, ormas laiknya bersinergi dengan TNI dalam membela Negara. LDII, kata Abdullah, memegang teguh falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara. “Komitmen LDII bahwa Pancasila, UUD 1945, dan NKRI harga mati. Bahkan, saya sering menantang, orang atau lembaga yang ingin mengganti falsafah Pancasila dengan falsafah lain, maka ia bukan hanya berhadapan dengan TNI/Polri, tetapi juga berhadapan dengan LDII,” ujar Syam, Senin (23/11/2015).
Adapun Ketua DPP LDII Hidayat Nahwi Rasul saat talkshow bela negara bersama Kodam VII Wirabuana di TVRI Sulsel pada Senin (30/11/2015) malam, mengajak segenap elemen bangsa untuk ikut terlibat upaya bela negara. Pihaknya mendorong ormas lain mengikuti jejak LDII. 
Sumber : DPW LDII Sulsel

LDII Turut Serta Kegiatan Jelajah Nusantara 2015

"Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beribu-ribu pulau dan bentang alam yang luas. Oleh karena itu jelajah nusantara dilakukan dengan menggunakan kapal," tutur Sekretaris Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum  Kementerian Dalam Negeri, Budi Prasetyo.

Perjalanan jelajah nusantara diharapkan dapat menguatkan mental peserta dan menciptakan cinta tanah air yang tinggi.

Budi Prasetyo juga mengatakan, jelajah nusantara ini dilakukan dalam rangka menguatkan wawasan kebangsaan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Ia memberi contoh negara besar seperti Uni Soviet dapat terpecah belah menjadi beberapa negara. Sehingga negara besar seperti Indonesia wajib menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Jelajah Nusantara 2015 berlangsung mulai 15 Desember hingga 19 Desember 2015 yang mengunjungi Kepulauan Riau. Destinasi yang berada di sebelah timur Provinsi Riau itu dipilih karena Kepulauan Riau yang merupakan 96 persen wilayah berupa lautan dan 4 persen daratan, serta langsung berbatasan dengan Singapura.


Selain berkunjung, Jelajah Nusantara 2015 yang bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri, tim dari LDII dipimpinDR. H. Sarji Faisal, SH, MPd., memberikan buku bacaan kepada siswa-siswa sekolah dasar senilai 10 juta buku. "Harapannya buku tersebut dapat meningkatkan wawasan serta minat baca para siswa," kata Sarji.
Sumber : ldii.or.id

Minggu, 22 November 2015

LDII Kendari adakan Lomba Silat ASAD

Untuk mengasah ketrampilan kalangan remaja LDII dalam menggunakan jurus-jurus silat, agar tetap terus terpelihara dan berkembang dengan baik, maka pengurus LDII Kendari berinisiatif menyelenggarakan lomba seni beladiri ASAD, Perlombaan ini berlangsung sejak hari Minggu pagi tanggal 22 Nopember 2015 yang bertempat di Aula Lantai 2 Masjid Al-Manshurin, Kecamatan Wua-wua, Kota Kendari. Acara ini diikuti oleh puluhan peserta mulai dari kelas anak-anak hingga dewasa yang terbagi dalam beberapa tim/kelompok





Acara ini juga dimaksudkan untuk menyaring dan menyeleksi para peserta yang akan dikirim ke pertandingan ASAD tingkat pusat yang nantinya juga diikuti oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Sebagai kegiatan rutin tahunan yang diadakan LDII Kendari diharapkan kegiatan ini dapat meregenerasi  dan meningkatkan kualitas para pesilat-pesilat ASAD dari tingkat anak-anak hingga tingkat dewasa.