Jumat, 22 Maret 2013

Sejarah Ulama Besar LDII, KH Nurhasan Al-Ubaidah Lubis


KH. Nurhasan Al Ubaidah Lubis  adalah seorang Mujaddid (Reformis) dalam perjuangan Islam khususnya di Indonesia, kiprahnya berawal sejak kepulangan beliau menimba ilmu agama dari dua kota suci tempat asalnya agama islam (Makkah dan Madinah) sekitar tahun 1941.

Pengalaman Pesantren :

1) Pondok Semelo, Nganjuk (sufi)
2) Pondok Jamsaren, Sala
3) Dresmo, Surabaya (belajar silat)
4) Sampang, Madura (Kyai Al Ubaidah, Batuampar)
5) Lirboyo, Kediri
6) Tebuireng, Jombang

Anak anak beliau diantaranya:
1) K.H Muhammad Sueh Abdul Dzohir
2) K.H Sulthon Aulia Abdul Aziz
3) K.H Abdul Salam
4) K.H Muh Daud
5) Hj.Sumaidau’ (mbak da'u-gading)
6) K.H.Abdullah
7) H.Zubaidi Umar (dari ibu Al Suntikah)

Kronologi Kehidupan Beliau :
Tahun 1929 : Berangkat haji pertama ke tanah suci, mengganti nama menjadi Haji Nurhasan Al Ubaidah
Tahun 1933 :
• Belajar hadits Bukhari dan Muslim kepada Syeikh Abu Umar Hamdan dari Maroko
• Belajar di Madrasah Darul Hadits dekat Masjidil Haram
Info lain :
• Berangkat belajar Al-Quran dan Hadis-Hadis ke Mekah tahun 1937/1938
• Tiba di Mekah, disaksikan oleh H. Khoiri Ketua Rukbat Nahsyabandi (asrama pemukim di Saudi Arabia)
Tahun 1941 :
• Kembali ke Indonesia, membuka pengajian di Kediri
• menikah dengan orang Madura, Al Suntikah
Tahun 1950 :
• Mendirikan Pondok Pesantren Walibarokah di Burengan Kediri, Jawa Timur
Tahun 1952 :
• Mendirikan Pondok Pesantren di Gading Mangu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang




Perjuangan yang beliau jalani sebagai Dai yang mengajak umat Islam di Indonesia kembali pada al-Qur’an dan al-Hadits tidaklah mudah, banyak tantangan dan rintangan yang sangat berat harus beliau hadapi, mendobrak penyimpangan aqidah umat Islam di Indonesia yang sudah menjadi tradisi, walaupun umumnya masyarakat Islam di Indonesia mengaku berpegang teguh pada prinsip aliran ahlus sunnah wal jamaah akan tetapi dalam prakteknya mereka banyak mengingkari sunnah Rasulullah SAW dan mereka melaksanakan kewajiban sebagai umat islam dengan sendiri-sendiri (berfirqoh), maka lebih tepat jika mereka adalah pengikut ajaran ahlul bid’ah wal firqoh.

Gebrakan beliau membuat banyak para tokoh agama Islam atau para kiai di Indonesia kebakaran jenggot, ajaran beliau dinggap ancaman bagi eksistensi mereka, sebab jika dibiarkan umat Islam menerima ajaran KH. Nurhasan untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Hadits bisa-bisa mereka akan ditinggalkan oleh umat. Maka mulailah tuduhan-tuduhan dan fitnahan yang keji dilontarkan kepada beliau, diantaranya dikatakan; kiyai gila, dajal uchul, PKI putih dll.

Semua rintangan dan permusuhan itu beliau hadapi dengan sabar, bahkan beliau memberi pemahaman pada murid-muridnya bahwa salah satu tanda agama yang benar adalah dimusuhi, bukankah Waraqoh bin an-Naufal seorang pendeta Nasrani yang sangat mendalami ajaran kitab Injil di awal keRasulan Nabi Muhammad SAW telah memberi peringatan;


لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِيَ. رواه البخاري


Tidak datang seorangpun dengan (ajaran) semisal yang engkau bawa melainkan dia akan dimusuhi

Dan jika dahulu Rasulullah dimusuhi dan rintangi oleh kaumnya yang masih jahiliyyah maka KH. Nurhasan dimusuhi oleh sesama umat Islam yang tidak rela jika penyimpangan dan bid’ah yang sudah mendarah daging dalam diri mereka diusik, hal ini sesuai dengan yang disabdakan Rasulullah SAW


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ‏. رواه مسلم


Dari Abi Hurairah dia berkata, Rasulullah SAW bersabda Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah bagi mereka yang dianggap asing.

Saat-Saat Terakhir
Sabtu sore, 13 Maret 1982 Nurhasan dan keluarga (Abdul Aziz (anak), Fatimah (istri), Yusuf (menantu)) mengalami kecelakaan lalu lintas di Pelayangan (20 km arah Cirebon), yang rencananya akan menghadiri Acara di Jakarta. Kendaraan Mercy Tiger B 8418 EW warna merah yang ditumpangi menabrak truk Fuso. Selepas magrib K.H Nurhasan menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon.

Diantara jasa beliau bagi umumnya umat Islam di Indonesia

1. Umat Islam jadi lebih mengenal dan dekat dengan al-Qur’an dan al-Hadits, yang dulunya pemahaman mereka dalam hukum agama didominasi dengan kitab-kitab kuning sekarang sudah mulai merujuk pada dalil-dalil Al-Quran dan al-Hadits.

2. Beliau menjadi trendsetter bagi masyarakat Islam dalam banyak hal diantaranya; masalah busana muslim untuk kaum lelaki, sekarang ini sudah mulai banyak yang dapat kita lihat gaya berpakaian celananya di atas mata kaki, padahal dulu ketika murid-murid KH. Nurhasan memulai gaya celana seperti itu malah banyak orang yang mentertawakan dan mengolok-olok dengan sindiran; celananya kebanjiran, kekurangan bahan dll. Demikian pula bagi kaum wanita pada tahun 70an umumnya perempuan muslimat termasuk para Ustazah tidak memakai kerudung, paling-paling hanya memakai selendang yang disampirkan di kepala, bahkan murid-murid perempuan KH. Nurhasan yang sudah mengamalkan menutup aurat dengan tertib diolok-olok bahwa kepala mereka korengan. Penulis punya nostalgia; sewaktu masih kecil apabila diajak bepergian oleh orang tua dari Jawa-Timur (tepatnya di Jombang) ke Jakarta kalau menjumpai orang pakai kerudung hampir dipastikan itu adalah orang jamaah pengajian Qur’an Hadits (murid KH. Nurhasan).

3. Dalam masalah anti rokok; jika MUI baru di tahun 2009 ini mengeluarkan fatwa haram merokok, maka KH. Nurhasan telah melarang dan mengharamkan murid-muridnya merokok sejak tahun 1960an dan itu benar-benar mereka patuhi, sehingga setiap ada keramaian yang diadakan murid-murid KH. Nurhasan pasti akan sangat mengecewakan pedagang rokok sebab tidak ada satupun yang bakal membelinya.

4. Dalam masalah kemandirian dana yang bersumber dari infaq serta zakat; KH. Nurhasan telah berhasil menanamkan kefahaman pada murid-muridnya akan penting dan wajibnya membela agama Allah berupa infaq dan atau zakat, sehingga dapat dilihat di mana-mana murid-murid beliau ketika akan membangun masjid, musholla atau sarana-sarana ibadah lainnya tidak pernah mengemis-ngemis di tepi jalan, tapi tidak lama kemudian tiba-tiba telah berdiri bangunannya .

Dan masih banyak lagi jasa-jasa beliau yang tidak bisa diungkap di blog ini, mudah-mudahan Allah mengganjar beliau atas semua amal-sholih dan jerih payahnya dengan ganjaran sebesar-besarnya- serta derajat setinggi-tingginya di surga. Amin

3 komentar:

  1. alhamdulillah kita bisa faham dan mengerti dengan aslinya islam yang tidak di campuri bid ah khurofat takhoyul dsb mugo tetep lestari ila yaumil qiyamah

    BalasHapus
  2. amin........ semoga kita bisa meneruskan perjuangan beliau menyebarkan pemahaman akidah agama yang murni sesuai tuntunan Kitab Al-Quran dan Al-Hadis yang shohih

    BalasHapus
  3. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr; dan Abdullah bin Numair; keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar; dari Nafi'; dari Ibnu Umar radiyallahu'anhu; bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

    "Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya (sesama muslim), maka sungguh salah seorang dari keduanya (yang menuduh) telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut."

    [Hadits Riwayat Muslim no. 91]
    ------------------------------------

    BalasHapus