Perusahaan Kereta Jepang dan DPP LDII Teken MoU Pengelolaan Masjid

JAKARTA – Perusahaan Kereta Nankai Electric Railway (NER) Jepang untuk yang ketiga kalinya kembali mengunjungi DPP LDII, guna membahas pembangunan tempat salat umat Islam atau mushola dan masjid, Selasa (9/9/2014) lalu. Sebelumnya, NER telah melakukan kunjungan ke Indonesia dan meminta saran Kementerian Agama RI serta ormas Islam yang salah satunya adalah LDII.
Pada pertemuan sebelumnya tersebut, Jepang berniat menyediakan tempat salat dan restoran halal di setiap stasiun kereta api, mengingat potensi dari perkembangan wisatawan dan pelajar beragama Islam ke negeri itu. Umumnya, saat wisatawan tiba di Jepang, mereka kesulitan menemukan tempat salat atau mushola untuk beribadah.
Pada pertemuan yang ketiga kalinya ini, Presiden Direktur PT. OSSI, Satoshi Miyajima, didampingi Eiji Ananda Putra, seorang asisten sekaligus penerjemah yang menjadi penghubung NER, langsung melakukan berbagai kunjungan ke Kementerian Agama, MUI, dan ormas Islam lainnya dan difasilitasi DPP LDII.  Satoshi Miyajima, yang mahir berbahasa Indonesia ini, menyampaikan beberapa hal sebelum penandatanganan Masters of Understanding (MoU) atau nota kesepakatan.
Satoshi mengatakan, Osaka merupakan pintu gerbang wisatawan, pekerja, maupun pelajar dari mancanegara yang beragama Islam. Di Osaka dan kota-kota lainnya di Jepang, lanjutnya, umat Islam sebagai pendatang mengalami kesulitan untuk sholat di masjid. “Kami ingin membangun masjid. Untuk itu, kami (ingin) mempelajari masalah impact serta finansial, bagaimana mengatasi prasangka buruk masyarakat Jepang terhadap Islam, (serta) apakah setelah masjid dibangun operasionalnya akan membebani Nankai (atau tidak),” ujar Satoshi Miyajima.
Keheranan Satoshi Miyajima wajar karena selama ini pemberitaan media di Jepang terkait Islam selalu negatif, akibat keberpihakan dan ketidakberimbangan media. Namun dengan menggandeng LDII, ia berharap kesan mengenai Islam di dalam masyarakat Jepang berubah. Menurutnya, LDII memiliki komitmen membangun karakter umat yang ber-akhlaqul karimah, bukannya radikal. LDII dikenali sebagai ormas yang berpegang teguh kepada kemandirian dan memiliki relawan yang berkomitmen kuat.
“Properti LDII umumnya milik perorangan, yang kemudian dikelola LDII. Tentu secara legal harus dipahami prosedurnya, karena Indonesia dan Jepang memiliki prosedur yang berbeda. Jika MoU yang akan disepakati tidak dijalankan dengan baik maka aset Nankai dapat ditarik,“ ujar Rioberto Sidauruk dari Departemen Organisasi, Kaderisasi, dan dan Keanggotaan (OKK) DPP LDII.
Pada pertemuan itu, pertama, Nankai ingin mengkonfirmasikan kembali bahwa LDII bukanlah Islam radikal. Nankai melihat LDII mampu bersahabat dengan masyarakat sekitar, karena dapat menjunjung tinggi toleransi. Sebagaimana dalam falsafah Jepang: jika menanam kebaikan, maka kita akan memanen kebaikan.
Kekhawatiran pihak Jepang yang kedua adalah mengenai pembangunan masjid dapat membebani biaya operasional. Nankai berpendapat LDII mampu mengatasi permasalahan biaya operasional, karena dapat mendanai kegiatan secara mandiri. Namun demikian, tidak ada keuntungan yang dikejar dari pembangunan masjid karena merupakan program sosial.
Sebagai tindak lanjut kesepakatan, pada Kamis (11/9) malam, LDII mengundang Direktur Nankai, Takamasa Kadokura dan wakilnya Kitagawa. Selain beramah-tamah, LDII menjelaskan struktur organisasi serta tujuan dan kontribusi yang selama ini LDII lakukan. LDII dan Nankai sepakat untuk bekerjasama mengelola tempat ibadah tersebut difungsikan sebagaimana mestinya. Nankai juga menyampaikan, akan meresmikan tempat ibadah yang telah dibangun di salah satu pusat perbelanjaan di Namba pada 30 September 2014 mendatang.
Dalam bahasa Jepang, Takamasa menyampaikan terima kasih karena LDII sudah menyambut dengan hangat dan terbuka. Takamasa juga berharap, hubungan pertemanan ini bisa tetap berlanjut dan nantinya dapat saling bermanfaat satu sama lain. Terutama dalam mewujudkan pembangunan ibadah di semua stasiun Jepang, Osaka khususnya. (Noni/Riyan/LINES)

Komentar